Headline

Foto:Istimewa

Oleh: Subchan Zurya Mawla
Bola – Rabu, 29 Desember 2010 | 07:30 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Dua puluh tiga tahun silam lagu Indonesia Raya menggema di partai puncak Sea Games 1987 kala timnas sepakbola Indonesia untuk kali pertama mencetak gelar di kejuaraan Internasional. Adaempat persamaan antara timnas 1987 dan timnas 2010. Akankah kesamaan itu menjadi isyarat kemenangan timnas malam ini?

Era 80an bisa dibilang sebagai sebagai titik tolak kebanggaan sepakbola Indonesia. Bermaterikan pemain muda, pasukan Garuda bekerja keras mengharumkan nama bangsa. Pada 1987, cita-cita itu tercapai kala timnas besutan pelatih Bertje Matulapelwa menembus partai final dan menjuarai ajang Sea Games di Jakarta.

Bermaterikan pemain muda, seperti Ponirin Meka, Jaya Hartono, Robby Darwis, Nasrul Koto, Azhary Rangkuti, Ricky Yakobi, dan Ribut Waidi, sang pelatih meramu tim yang mampu bermain atraktif di sepanjang kompetisi hingga partai puncak.

Di final Indonesia ditantang Malaysia setelah sukses mematahkan dominasi Thailand pada putaran sebelumnya.

Pada laga Indonesia kontra Malaysia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, itu nyaris berakhir imbang karena skor kacamata tidak berubah meski pertandingan telah berlangsung 90 menit.

Namun, suasana sontak berubah menjadi riuh kala striker Indonesia, Ribut Waidi berhasil menyarangkan gol pada menit ke-91 ke gawang Malaysia. Sesaat gol bersarang peluit panjang pun ditiup wasit dan mendadak sorak sorai menggema di seluruh stadion.

Gol tunggal yang dicetak Ribut di akhir babak kedua itu tidak hanya menjadi penentu kemenangan Indonesia atas Malaysiadi ajang Sea Games, tetapi juga sebagai titik tolak kesuksesan perdana timnas Indonesia di kancah Internasional.

Berkat kemenangan tersebut, sepakbola Indonesia berhak mendapatkan medali emas pada ajang Sea Games 1987.

Kini, setelah 23 tahun berselang Indonesia kembali berada di partai puncak dengan catatan sempurna limakemenangan. Yang menarik, ada empat hal yang terlihat sama antara perjalanan timnas tahun ini dan era ’87.

Pertama, kesamaaan situasi Indonesia yang sukses menuju final setelah menjungkalkan Thailand pada 1987 lalu juga dirasakan pada tahun ini.

Kedua, permainan agresif ala Ricky Yacobi dan kawan-kawan (dkk) pada masa lampau juga terpapar jelas dengan catatan 15 gol yang dibukukan Firman Utina dkk di ajang Piala AFF 2010.

Ketiga, partai final AFF Cup 2010 mempertemukan skuad Merah Putih dengan Malaysia seakan menjadi partai ulangan pada era 80an itu.

Keempat, kesamaan paling mencolok ialah situasi timnas Indonesia yang tengah paceklik gelar yang sama-sama dirasakan oleh dua tim Merah Putih beda generasi itu.

Malam ini (Rabu (29/12/2010), Indonesia menjamu Malaysia di laga kedua final Piala AFF 2010. Mampukah pasukan Garuda mencatatkan persamaan kelima dengan mengandaskan Malaysia sehingga lagu kebangsaan Indonesia Raya kembali berkumandang di Stadion Utama Gelora Bung Karno? Jawabannya, kita tunggu pembuktian Alfred Riedl dan pasukan Garuda besutannya yang kini dikomandoi Firman Utina itu, malam ini.